Semester Lima Kemarin – Kuliah RPL

Di tulisan sebelumnya, saya menceritakan kegiatan-kegiatan kepanitiaan saya selama semester lima. Nah, di tulisan ini, saya mau mencaritakan kegiatan kuliah saya. Lagi-lagi, kegiatan-kegiatan ini yang membuat saya malas ngeblog, malas mengunjungi blog sampai-sampai saya lupa password account wordpress ini.

Kuliah di semester lima yang pasti sibuk, banyak tugas, banyak deadline, banyak proyek. Sama dengan semester lainnya, bedanya yang ini lebih seru dan menantang.  Ada tujuh mata kuliah yang saya ikuti, ada OOP, RPL, HCI,Pengcit, Wirus, Kamjar, dan Database. Dari tujuh mata kuliah itu, saya diajar empat dosen. Jadi, ada dua dosen yang masing-masing mengajar dua mata kuliah.

Yang paling seru, tentunya RPL atau Rekayasa Perangkat Lunak. Di kuliah ini kita diberi ilmu mengenai  manajemen proyek rekayasa perangkat lunak. Dari mulai tahap perencanaan, implementasi, sampai tahap maintenance. Yang bikin seru kuliah ini adalah dosennya dan tugas proyeknya. Pertama, dosennya galak, disiplin, tegas, keras, pokoknya ngeri. Kedua, proyeknya macam proyek bikin software sebenarnya dimana kita harus melengkapi semua dokumen-dokumen pendukung proyek perangkat lunak ditambah presentasi di akhir semester.

Pernah suatu hari di pertemuan pertama setelah libur lebaran, Ibu dosen datang agak telat yang artinya kelas sudah ramai dipenuhi mahasiswa. Yang namanya mahasiswa, kalau nunggu dosen nggak dateng-dateng pasti ngobrol dong. Sudah pasti kelas jadi ramai dengan obrolan di sana-sini. Ibu dosen masuk, nggak bicara apa-apa, langsung duduk di bangku dosen di depan kelas. Emang dasar mahasiswa nggak tau aturan, tetep aja kita ngobrol tanpa mengacuhkan kedatangan beliau. Beberapa menit ibu dosen duduk, belum ada tanda-tanda juga kalau beliau mau mulai ngajar karena kita masih ngobrol dan terus ngobrol. Tiba-tiba, bagaikan petir yang menyambar, ada suara “DHUAR!!! DHUAR!!! DHUAR!!!”. Suasana kelas hening seketika karena ternyata suara itu datang dari depan, dari meja dosen yang dipukul keras-keras oleh Ibu dosen. Muka Ibu dosen keliahatan marah. Langsung saja beliau dengan nada tinggi memberikan wejangan pada kami. Sejak saat itu, kami sekelas selalu ngeri kalau mau kuliah dan berusaha nggak membuat kesalahan di depan beliau.

Namun, di balik kegalakannya itu, Profesor yang mengajar mata kuliah RPL ini sangat sayang pada mahasiswanya. Beliau nggak ingin mahasiswanya nggak dapet ilmu di kuliah ini di Universitas kami. Semua harus bisa, semua harus punya kompetensi. Mahasiswa-mahasiswanya harus tau dan siap menghadapi dunia nyata, yang artinya sejak kuliah harus sudah dibiasakan dan nggak boleh main-main. Beliau galak bukan karena jahat, melainkan karena peduli dengan masa depan anak-anaknya, masa depan bangsa Indonesia.

Proyek yang ditugaskan di kuliah RPL adalah membangun sebuah perangkat lunak yang bermanfaat sambil menerapkan manajemen proyek perangkat lunak dengan tepat. Perangkat lunak yang kita buat haruslah sebuah sistem yang meminta input, mengolah input tersebut dan memberikan output hasil olahan tersebut kepada pengguna, tentunya dengan tepat sesuai yang diharapkan.

Sedari awal kuliah, Ibu dosen sudah membicarakan proyek ini, bahkan beliau langsung menyuruh kami para mahasiswa membentuk kelompok dan menentukan tema dari perangkat lunak yang ingin dikembangkan. Saat itu saya santai aja, yang penting sudah dapat kelompok. Kelompok saya beranggotakan saya sendiri, ipank dan kang asep. Kami cuma sedikit-sedikit ngobrolin kuliah ini sambil menganggap remeh. Dan ternyata di pertemuan berikutnya, kita ditagih, di pertemuan berikutnya lagi kita disuruh bikin proposal awal, berikutnya management plan, dan seterusnya dan seterusnya. Pokoknya cepet banget, dan nggak kerasa ternyata kita terlalu santai.

Rencana awalnya kita bikin sistem peminjaman perpustakaan dengan autentikasi sidik jari, eh ternyata terlalu berat. Sempat juga si ipank mengusulkan rencana membuat sms gateway, apa itu saya sendiri juga nggak begitu paham. Bahkan sampai malam sebelum dikumpulkannya management plan pertama, kita masih bingung mau bikin apa. Berkat searchingnya kang asep di mbah google, akhirnya diputuskan kita akan membuat sistem apotek, berbekal meniru dari proposal orang lain. Yang penting kita bisa menunjukkan dulu bahwa kita sudah ngerjain sesuatu walaupun sebenarnya belum. Satu kata, mengenaskan.

Sistem yang kami buat berjudul Sistem Informasi Apotik disingkat SIAP dan karena kuliah RPL mewajibkan kita menggunakan bahasa Inggris, maka kita ubah sedikit namanya menjadi Dispensary Information System disingkat DAISY, manis juga kan. Dalam mengembangkan sistem kami, awalnya kita cuma tahu kalau kita akan mengembangkan sistem berbasis web, sistem yang cukup diakses dari web browser. Saya dan kang asep yang waktu itu nggak ngerti apa-apa tentang pemrograman web langsung aja cari-cari buku yang isinya tutorial membuat sistem berbasis web. Akhirnya kita beli buku yang membahas sistem berbasis web untuk perpustakaan dan buku yang membahas sistem berbasis web untuk penjualan. Awalnya kita yakin aja kalau buku ini akan banyak dipakai sebagai referensi teori maupun source code-nya. Ternyata memang benar, dari buku-buku ini kita jadi tahu caranya bikin halaman web, bikin halaman login, kita tahu bahasa-bahasa pemrograman PHP, dan sebagainya. Saya yang udah pernah coba-coba bikin web dengan CMS wordpress, sedikit banyak udah punya dasar tentang menggunakan server XAMPP.

Setelah pengajuan management plan pertama, ternyata kuliah selanjutnya lebih sering diisi materi dan hanya sedikit membahas pengerjaan proyek. Maka, kita santai-santai lagi. Terus keterusan santai, sampai bu dosen di tengah periode perkuliahan ternyata mau pergi haji. Selama Ibu dosen pergi haji, kita punya tugas untuk saling mempresentasikan proyeknya di depan kelas, walaupun tanpa dosen. Nah mulai dari situ, kelompok saya, yang namanya SPEKNAS mulai sering begadang. Si ipank yang kosnya jauh jadi sering nginep bareng saya dan kang asep yang satu tempas kos. Pokoknya kegiatan nginep-nginep kaya gini bener-bener seru. Mulai dari nggak serius dengan ejek-mengejek diantara kita sampe serius banget menjelang deadline.

Selama sisa sekitar dua bulan sampai hari ujian, kita bener bener berjuang mati-matian di tengah banyaknya proyek-proyek dari mata kuliah lain. Semua bagian sistem kita coba bangun sampai berhasil, nggak ada satupun dari rencana kami yang ditinggalkan. Bahkan kami berusaha membuat sesuatu yang lebih dan lebih dari yang kami rencanakan. Hampir setiap malam kita begadang untuk menyelesaikan masalah ini dan itu sampai-sampai walaupun nggak ada masalah, tetep aja kami begadang. Menurut saya sistem yang kami buat udah cukup untuk mendapat nilai yang tinggi, namun kami terus berusaha melakukan perbaikan dan perbaikan serta peningkatan kualitas karena ada rasa puas sendiri setiap kami berhasil menambahkan sesuatu ke dalam sistem itu.

Singkat cerita, tibalah masa-masa Ujian Akhir Semester. Semua proyek kami kebut tujuh hari tujuh malam tanpa kenal lelah, termasuk proyek RPL ini. Walaupun sebenarnya saat itu DAISY sudah  selesai, namun kami masih harus menyempurnakan sampai detil-detil kecil dan dokumen-dokumen pendukungnya. Untungnya waktu itu, nggak ada mata kuliah yang menyelenggarakan ujian tertulis kecuali RPL ini. Artinya kita bisa benar-benar mengerjakan semua proyek-proyek tugas akhir.

Di malam terakhir menjelang ujian tertulis RPL, kami harus memastikan bahwa semuanya sudah lengkap. Saya yang waktu itu mengerjakan bagian pengembangan sistem dengan pemrograman-pemrogramannya sudah yakin bahwa yang lain udah beres. Waktu saya  periksa lagi dokumen-dokumen pelengkap, ternyata format tulisannya masih acak-acakan. Mau nggak mau saya yang waktu itu masih terbangun di tengah malam, sendirian mengerjakan dan merapikan semua dokumen sampai siap bungkus. Parahnya, saya jadi nggak belajar untuk ujian tertulis dan nggak mempersiapkan apa-apa untuk presentasi.

Menjelang detik-detik ujian, saya dan kang asep, yang sudah mempersiapkan semua dokumen yang akan dikumpulkan, sengaja datang cepat supaya dapat posisi yang enak waktu ujian untuk kerja sama. Emang lagi kurang beruntung, ternyata penjaga ujiannya adalah Ibu dosen sendiri dan kami diminta duduk berjauh-jauhan dengan jeda satu bangku. Saya yang waktu itu udah dapet posisi enak, mau nggak mau harus pindah dan dapat bangku paling depan tanpa seorang pun di kiri dan kanan saya. Apapun saya kerjakan semampu saya dan sebisa saya tanpa tanya kanan kiri tanpa buka contekan yang belum dipersiapkan. Hasilnya, dari 110 poin kira-kira saya kehilangan 45 poin.

Belum cukup dengan itu, ternyata hari itu juga kami harus presentasi. Saya panik nggak bisa berkata apa-apa karena kami belum mempersiapkan slide presentasi ataupun bahan pembicaraan di depan, lemas rasanya. Untungnya dulu waktu Ibu dosen pergi haji, kita udah pernah disuruh presentasi. Apa boleh buat, slideshow yang seadanya dan nggak sempurna itu kita gunakan untuk presentasi di depan kelas. Saat presentasi pun kami nggak jelas bicara ngalor ngidul dengan bahasa inggris yang ancur-ancuran. Selesai semua presentasi, kami makin dikejutkan lagi, laporan yang kami buat setebal kurang lebih seratus dua puluh halaman ternyata dikembalikan beserta CD yang sudah berisi perangkat lunak buatan kami, hanya dinilai di tempat selama presentasi berdurasi 12 menit itu, sungguh terlalu. Walaupun begitu, kami sedikit terobati karena tugas kami diberi nilai cukup tinggi oleh Ibu dosen. Ngaak percuma, ternyata perjuangan kami nggak berujung sia-sia.

Kira-kira begitulah perjuangan yang kami hadapi dalam menjalani kuliah RPL. Seru, tegang, senang, takut, tapi nggak ada sedihnya, cuma sedikit kecewa, semua itu berbuah pengalaman yang sangat berharga. Pesan moral yang disampaikan Ibu dosen, pengalaman bekerja sama dengan teman-teman, pengalaman begadang, pengalaman mencari klien yang mau menggunakan sistem kita, dan semua pengalaman lainnya benar-benar membuat saya bersyukur bahwa saya masih bisa berkarya, berkaca bahwa masih banyak yang belum saya lakukan dan harus saya lakukan, ingat bahwa perjalanan ke depan masih panjang. Tiada kata yang lebih pantas saya ucapakan pada teman-teman saya ,kang asep dan ipank, selain terima kasih sedalam-dalamnya setulus-tulusnya. Tanpa mereka, saya mungkin tidak bisa tersenyum saat mengerjakan tugas-tugas RPL yang menyenangkan itu.

Perihal wegaclubban
Seorang anak manusia yang suka bermain dan belajar karena belajar, bermain, dan berdoa itu kewajiban kita sebagai generasi penerus kehidupan. Lakukanlah apa yang kita cintai dan cintailah apa yang kita lakukan.

4 Responses to Semester Lima Kemarin – Kuliah RPL

  1. kang asep mengatakan:

    good job my friendship…

  2. Ipank mengatakan:

    nice gan., sama-sama

  3. Ila Rizky Nidiana mengatakan:

    Sukses buat kuliahnya, gan.. mantap nih ilmunya, hehe.. keep writing ya! ditunggu sharing ttg dunia IT lagi.😀

  4. poos mengatakan:

    aku baru mau ambil mppl…. tapi sebelumnya aku udah ambil mk RPL… itu praktikumnya ya udah bikin proyek kelompokan gt, sampek manajemennya, dokumentasinya… masa kalo ambil mppl, dapet tugas kaya gt lagi ??? waaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: