Perbandingan Google+ dan Facebook

Maih hangat-hangatnya seputar Google+, kali ini mari kita bandingkan Google+ dengan Facebook. Seperti kita tahu, google+ adalah sebuah media sosial yang kurang lebih menyediakan aktifitas sosial yang sama dengan facebook. Dengan memperhatikan segala kekurangan facebook, pastinya Google berusaha membuat sesuatu yang berbeda dan diharapkan mampu menyaingi popularitas Facebook. Berikut ini perbandingan fitur antara Google+ dan Facebook yang dibuat oleh Technobombs.

 

sumber: salingsilang.com

+1 Button di WordPress.com

google+1buttonBerhubung lagi hangat-hangatnya Google+ saya masih ingin membuat tulisan yang ada hubungannya dengan Google, yaitu tombol +1. Beberapa waktu sebelum peluncuran Google+, google lebih dahulu mengenalkan tombol +1. Tombol ini kira-kira sama dengan tombol like di facebook yang artinya menyukai atau mendukung atau merekomendasikan isi sebuah halaman web. Tombol +1 ini berguna dalam meningkatkan kualitas hasil pencarian search engine Google. Hasil pencarian diharapkan lebih relevan dengan hadirnya rekomendasi yang didapat dari tombol +1 ini.

Saya yang masih menjelajah dan mencoba-coba bermain dengan Google+ ingin sekali kalau setiap tulisan yang saya buat di blog worpress.com ini dapat langsung dibagikan lewat account Google+ saya selain di Facebook dan Twitter. Saya juga ingin pembaca yang menyukai tulisan saya (seandainya ada) dapat langsung merekomendasikan isi blog ini. Nah, tombol +1 inilah jawabannya. Sempat bingung bagaimana cara memunculkan tombol +1 di tulisan yang saya buat, akhirnya saya temukan juga caranya. Cukup mudah dan cara ini berlaku juga untuk memunculkan tombol-tombol sharing yang lain seperti twitter, facebook, dan lain-lain. Caranya adalah sebagai berikut.
Baca pos ini lebih lanjut

Contekan Google+

Di tulisan sebelumnya saya berbagi 7 trik dasar yang perlu diketahui dalam menggunakan Google Plus. Kali ini saya dapat sebuah gambar yang dibagikan seseorang di Google Plus. Judulnya adalah “Google+ Cheat Sheet”. Isi dari lembar contekan ini adalah beberapa trik dasar yang perlu kita ketahui dalam menggunakan Google+. Langsung saja, ini dia gambarnya.

G+ Cheat

7 Trik Dasar Google+

Beberapa waktu lalu raksasa internet Google meluncurkan sebuah media sosial bernama Google+, dibaca Google Plus. Google melakukan ini setelah sempat beberapa kali mencoba terjun di dunia media sosial yang berujung gagal. Di awal-awal peluncurannya, Google+ tidak bisa langsung digunakan oleh pengguna biasa. Hanya orang-orang tertentu yang diundang (invite) saja yang sudah bisa mulai mencicipi mainan baru ini. Google menamakan masa-masa percobaan ini sebagai field test. Kebanyakan yang diundang adalah orang-orang yang berkecimpung di dunia IT dan media sosial.

Tentang apa itu Google+, kita bisa dapat informasinya di Google Blog. Di sana dijelaskan fitur-fitur apa saja yang ada di Google+ disertai dengan videonya. Google juga menyediakan demo Google+ di sini.

Hari ini saya kebetulan dapat undangan dari teman saya yang sudah lebih dulu dapat undangan. Kenapa ia bisa dapat undangan? pastinya dari temannya, temannya dari teman yang lain, dan seterusnya dari temannya yang dapat undangan langsung dari orang-orang Google. Inilah kekuatan media sosial. Mungkin tanpa harus membuka Google+ secara bebas untuk beberapa waktu ke depan, Google+ sudah bisa mendapatkan banyak anggota karena banyak orang yang penasaran. Saya yang juga penasaran dengan media sosial yang katanya siap mencoba menjatuhkan dominasi Facebook ini, langsung saja mencobanya dan mulail mengedit profil, menambah teman, mengupload foto, dan lain-lain.

Cari-cari dan menjelajah tentang Google+ lewat google, saya dapat 7 dasar, mungkin lebih tepatnya trik dasar dalam menggunakan Google+. Berikut ini adalah 7 dasar Google+ yang bisa dipelajari. Baca pos ini lebih lanjut

JagungPop: Twitter Client Rasa DABR

Sebelum saya berbagi Jagungpop, sedikit basa-basi tentang twitter. Twitter adalah sebuah situs web yang dimiliki dan dioperasikan oleh Twitter Inc., yang menawarkan jaringan sosial berupa mikroblog sehingga memungkinkan penggunanya untuk mengirim dan membaca pesan yang disebut tweets. Tweets adalah teks tulisan hingga 140 karakter yang ditampilkan pada halaman profil pengguna. Tweets bisa dilihat secara luar, namun pengirim dapat membatasi pengiriman pesan ke daftar teman-teman mereka saja. Pengguna dapat melihat tweets penulis lain yang dikenal dengan sebutan pengikut. Kira-kira itulah sekilas tentang twitter.

Sejak beberapa bulan terakhir saya baru mulai ketagihan dengan yang namanya Twitter. Walaupun terhitung telat, tapi sebenarnya saya sudah punya account twitter sejak lama dan saya biarkan begitu saja karena nggak tau mau apa dengan twitter. Ketika teman-teman saya mulai banyak yang menggunakan twitter, barulah saya ikutan dan akhirnya ketagihan twitter. Tingkat ketagihan saya disini belum terlalu ekstrim, masih sekitar 0 sampai 5 tweet per hari.

Selama menjadi pengguna twitter, akhirnya saya kenal dengan yang namanya twitter client. Salah satu titter client berbasis mobile web adalah dabr. Client yang satu ini memiliki tampilan yang simple dan ringan untuk diakses melalui mobile browser. Dabr merupakan aplikasi PHP opensource dan kita bebas mengunduh source code php-nya di http://code.google.com/p/dabr/downloads/detail?name=dabr-r373.zip. Kita juga dapat menginstall code tersebut di web server dan alamat domain sendiri. Saya menginstall dabr menggunakan alamat dan hosting gratis dari orgfree dan saya beri alamat http://jagungpop.orgfree.com/jagung. Berikut ini screenshot dari twitter client rasa DABR : JagungPop

JagungPop

Ada beberapa keuntungan menggunakan dabr, diantaranya karena dabr dirancang sebagai twitter client versi mobile maka ukuran halamannya kecil sehingga loading-nya pun relatif cepat. Selain itu dabr mendukung fitur-fitur seperti search, twitpic dan URL shortener. Menu-menu yang ada di dabr juga relatif mudah diakses dan tidak membingungkan. Yang lebih asiknya lagi, dabr masih mendukung retweet model lama yang mengutip sebuah tweet dengan “RT: “. Tampilan dabr juga bisa diatur sesuai kebutuhan apakah itu untuk tampilan normal phone, touch phone, desktop, dan lain-lain. Ada kelebihan pasti ada juga kekurangan dan kekurangan yang saya rasakan dari dabr adalah kita harus sering-sering merefresh halaman untuk dapat melihat tweet-tweet yang lebih baru.

KAMARPAS One Stop Distro Directory

Kalau sebelumnya DAISY adalah tugas proyek mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak di semester lima, di semester enam ada sebuah mata kuliah yang tak kalah menarik tugasnya, yaitu mata kuliah Teknologi Web dan Multimedia. Secara umum mata kuiah ini membahas perkembangan web, bahasa-bahasa pemrograman web, hingga praktek membuat web. Selain itu mata kuliah ini juga membahas tentang perkembangan multimedia dalam hubungannya dengan dunia komputer dan internet.

Di tengan semester pertama ada sebuah tugas untuk mengembangkan sebuah web. Awalnya kelompok saya yang bernama SuperB bingung dengan tema apa yang harus kami kembangkan. Tiba-tiba saja turun ide dari seorang teman untuk membuat direktori distro se-Jakarta. Web ini memuat info-info distro di seantero Jakarta. Info yang dimuat mengenai sebuah distro adalah tentu saja info lokasi distro tersebut. Maka berkembanglah imaginasi kami yang akhirnya kami wujudkan dalam sebuah web bernama KAMARPAS. Web ini dapat diakses melalui www.superb-kamarpas.co.cc.

KAMARPAS sebagai direktori distro rencananya menjadi semacam tempat bagi sebuah distro untuk mempromosikan distronya secara bebas. Bukan kami sebagai pengembang yang mengumpulkan informasi distro, melainkan para pemilik distro akan kami undang untuk menjadi anggota KAMARPAS dan memajang informasi distronya disana. Para pemilik distro akan memiliki sebuah halaman admin masing-masing untuk dapat mengubah-ubah informasi yang ingin ditampilkan di KAMARPAS. MAsing-masing distro juga dapat memajang beberapa produk-produk terbaiknya, sekaligus menyediakan link langsung ke homepage distro tersebut. Tidak lupa untuk mempermudah calon pelanggan yang ingin mencari sebuah distro, kami mengintegrasikan pencarian lokasi distro dengan Google Maps.

Berikut ini tampilan KAMARPAS

Tampilan Halaman Muka KAMARPAS

Tampilan Halaman Muka KAMARPAS

Serangan DDoS: Perang Cyber Antar Negara

Pada bulan Juli 2008 beberapa server milik negara Georgia dicrack dengan serangan DDoS sebelum Rusia berperang memperebutkan wilayah Ossetia Selatan

Selain server, situs-situs pemerintah dan beberapa situs komersil juga tidak dapat diakses. Tidak diketahui siapa yang melakukan perbuatan ini namun pemerintah Georgia yakin ini merupakan serangan dari Rusia.

Situs milik Presiden Georgia, Mikheil Sakashvili akhirnya dapat online kembali namun situs pusat pemerintahan, departemen luar negeri, dan departemen pertahanan tidak dapat diakses. Untuk mempertahankan akses dengan dunia digital, pemerintah Georgia memutuskan untuk membuat situs pengganti di blogger dan memuat berita-berita mereka di sana termasuk keyakinan mereka bahwa Rusia-lah yang melakukan penyerangan DDoS.

Dugaan ini berlandaskan kejadian pada bulan April sebelumnya, dimana jaringan internet milik pemerintah Estonia mendapat serangn cyber yang terkoordinasi dari cracker-cracker yang disponsori pemerintah Rusia. Serangan ini menarget situs-situs pemerintahan, partai politik, bank, hingga surat kabar. Hal ini terjadi karena Estonia memindahkan patung tentara Soviet di Tallin Memorial.

Para analisis internet menuduh Russian Business Network melakukan serangan terhadap pemerintah georgia. RBN adalah sebuah lembaga cracker yang bekerjasama dengan pemerintah dan mafia Rusia. Hal ini juga didukung oleh pengamatan seorang peneliti bernama Jart Armin yang mengelola sebuah situs yang memonitori aktifitas RBN.

Di situs ini ia menjabarkan penemuannya berupa kunjungan-kunjungan ke situs-situs di Georgia telah dibelokan ke server-server Rusia di Turki, dimana para pengunjung akan melihat situs palsu atau 404 HTTP Error.

Internet administrator di Jerman berusaha mengintervensi serangan ini dengan memindahkan rute situs ke server jerman milik Deutsche Telekom. Namun, intervensi ini hanya berjalan selama beberapa jam.

 

referens: Computing Channel Vol.1 No.3 September 2008